Komentar orang


Hari ini malam terakhir saya berada di solo setelah liburan panjang lebaran. Kalau dilihat dari tanggal kepulangan saya, 13 Juni kemarin sampai hari ini, sudah hampir satu bulan (meskipun kurang 2hari lagi). Suami pulang lebih awal, karena urusan kerjaan yang harus dikerjakan. Saya kepinginnya masih bisa stay di solo selamanya. Hahaha, maunya! Selain keluarga saya semua berada di solo, teman – teman sayapun juga berada di solo (kebanyakan) meskipun ada beberapa teman yang memilih untuk merantau. Zona nyaman bangetlah menurut saya pribadi. Tapi, itu akan saya lakukan kalau saya masih menyandang status single. Nah, kalau sekarang ? Status saya sudah berubah menjadi seorang istri. Yang mana sudah mempunyai tanggung jawab lebih daripada sewaktu masih single dulu. Sekarang, beban saya bukan beban orang tua, tapi beban suami saya. Suami sih untungnya bukan tipikal orang yang selalu menuntut saya banyak – banyak (senengnya 😘) yang terpenting, kita saling paham tugas satu sama yang lainnya, tanggung jawab kita jalan. Bukan yang seenak jidatnya sendiri. 

Disisi lain, beberapa orang yang melihat kita sebagai pasangan itu, berasa melihat kakak-adik atau….. temen! Binggo! Saya sih sejauh ini nggak masalah. Malah enak kan punya pasangan yang bukan terlihat istri tertindas suami atau begitupun sebaliknya. Tapi, yang namanya mulut orang, pasti selalu ada komentar – komentar negatif. Jamin deh! Ada yang terang – terangan ngomong sama saya kalau suami itu harus “dilayani” dari bikin teh pagi buta sampai urusan jasmani rohani. Ada lagi yang ngomongin kalau istri itu harus “ngintilin” kemanapun suami pergi. Dan masih banyak komentar – komentar negatif lain (kalau saya tulis, bisa jadi novel mungkin). Well, menurut saya, itu termasuk tanggung jawab utama yang orang lain nggak usah perlu tahu, toh itu juga urusan pribadi rumah tangga masing – masing. Mau ada ataupun tidak, tergantung keputusan keluarga mereka sendiri, bukan ? Yaa, begitulah masyarakat kita. Entah mereka mengomentari hal demikian karena perhatian atau…. hanya cuma basa basi dan kepo, yang ujungnya jadi pembicaraan hangat empuk sesama ibu-ibu. Untungnya, sejauh ini saya cuek – cuek aja dengan komentar yang terlontar. Toh yang menjalani rumah tangga kan kita, bukan orang lain. Tapi, kalau ada masukan yang bagus (bukan nyinyir) saya bisa berterima kasih dengan senang hati karena diberi masukan. Selama itu baik, kenapa tidak ?

Jadi, kalian pernah nggak dikomentari orang – orang cuma karena hal sederhana ? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s